Pages

Jumat, 11 April 2014

Cerpen Tentang ALAM :Kaki Surga untuk Anak-anakku


Broto Sumitro, nama yang ia dapatkan dari emaknya. Tapi ia lebih sering di panggil Otto. Cowok tinggi, cungkring, kulit sawo matang dan berhidung mancung ini memang memiliki ciri khas tersendiri. Pagi ini dengan gayanya yang carut marut (bahkan terlihat nggak pernah mandi), ia beranjak dari kosannya menaiki sepeda gunung menuju kampusnya.
Sesampainya di kampus, Otto disambut layaknya seorang artis papan penggilesan, (papan atas maksudnya). ”Selamat pagi, Otto” sapa seorang gadis manis dengan senyum merekah, namun hanya ia balas dengan senyum kecut dari wajah tak bersinarnya. Namanya Tina.  Cewek paling cantik dan menjadi rebutan kaum adam selain itu ia pernah menjadi cover girl di salah satu majalah ternama. Tapi entah apa yang membuat Tina bener-bener nge-fans pada Otto, bahkan  hampir gila ia gara – garanya. Tampang pas - pasan bahkan bisa dibilang di bawah standar, dompet kempes, kece juga nggak. Tapi itulah ajaibnya cinta.
Otto seorang pemuda desa. Dia tidak begitu suka dengan hiruk - pikuk kota Yogyakarta. Begitu juga dengan kehidupan bebas para pemudanya, mungkin itu pula yang membuatnya sama sekali tak melirik Tina. Seorang model cantik yang terbiasa dengan dunia gemerlap malam. Sedangkan Otto mahasiswa zaman purba yang hidup di zaman modern.

Ekpedisi akhir semester
Untuk mengisi waktu luangnya, Otto memilih untuk mengikuti UKM pecinta alam, ia menemukan dunia barunya disini. Bukan hanya kaki gunung Semeru (kampung halamannya), namun juga kaki gunung lainnya. Hampir tiap minggu ia menghilangkan penatnya dengan mengunjungi banyak tempat yang mengagumkan.
Tepat pukul 02.00 WIB, Rony, Bagas dan Otto telah bersiap dengan ransel besarnya. Menapaki jalan di pinggir kota lalu mencari tumpangan  kendaraan  yang searah dengan mereka. Lama benar tak mereka  jumpai ada kendaraan yang melewati daerah itu sampai akhirnya  setelah berpuluh – puluh meter mereka berjalan, ada juga truk yang mau ia tumpangi. Sudah hampir satu setengah jam mereka dalam perjalanan. Akhirnya  mereka sampai di sebuah desa. Masih cukup sepi, tak banyak yang aneh jika ini  dinamakan sebuah desa. Oksigen, ya oksigen ini yang selama ini mereka cari.Oksigen yang masih bersih tanpa polusi. Rasanya seperti keluar dari penjara, mereka secara berjamaah menarik nafas dalam – dalam lalu dikeluarkan bersama-sama seperti paduan suara di fakultas. Dan hal yang tak terduga terjadi, salah seorang dari mereka mengeluarkan angin dari tempat yang tak seharusnya. Bukannya dari mulut, tapi malah dari bawah .”Duuut..dutttttttttt”. Sontak mereka bertiga tertawa terbahak–bahak.
Tiga sekawan ini memang benar–benar istimewa  misalnya saja si Bagas dia rajanya buang angin, apalagi kalau sudah ada ritual kayak gini pasti tersangka utamanya Bagas. “ Parah kamu gas, tiap hari kayak gini, beh baunya mencemari lingkungan, kalau sampai ada ayam yang bangun itu pasti gara- gara bau gasmu ”, tuduh Rony.

dok.google.com
“ Hem enak saja,….”
Belum selesai Bagas berkilah terdengar suara ayam jago berkokok. Rony dan Otto ketawa lepas, merasakan kemenangan atas Bagas. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.
“Hem… ini kedua kalinya kita kesini ya Ron”, Otto mengawali pembicaraan
“Wah, iya To. Masih sama seperti kita pertama kali kesini.”
“ Bagiku yang baru pertama kali kesini, ini menakjubkan kawan…”, sahut Bagas.
Mendaki dan terus mendaki dan entahlah sampai kapan. Mereka bertiga, bagaikan tak pernah bisa lepas dari alam. Binatang – binatang yang ada disana seakan telah menjadi kawan lama bagi mereka. Namun Otto tak pernah menemukan sahabat lamanya, dalam sepanjang perjalanan menjelajah gunung, dari gunung satu ke gunung yang lain ia tak pernah lagi menemukan kakak tua kesayangannya. Dimanakah gerangan kini berada. Apakah telah terpenjara keadaan, sehingga ia hanya dimanjakan oleh suguhan sang empunya dan mimpinya untuk dapat terbang tersita oleh kotak  80 x 50 x 100.
            Buyar lamunan Otto oleh terbitnya matahari pagi ini, warna jingga yang menyilaukan mata, yang memberikan pertanda bahwa pagi sedang menyambut manusia di bumi ini.
 “ Subhanallah, indah nian ciptaan Allah yang satu ini”, Rony berdecak kagum.
            “ Kawan, lihat disana, luar biasa.” sahut Bagas, sambil menunjuk seberkas bias pelangi yang menawan.
Tetes – tetes embun yang menempel di dedaunan akhirnya jatuh ke tanah dan menghasilkan bias indah aneka warna. Pelangi ini takkan bisa kita temui di kota. Sementara itu Otto yang sedari tadi hanya menatap jauh ke pucuk pohon, akhirnya angkat bicara. Ia temukan sahabat lamanya, kakak tua. Tepat di pucuk pohon yang ia sandari.  Tak berani ia mengganggu sang burung, ia hanya memotretnya saja lalu menatapnya dengan penuh rasa rindu. Tak pernah sebelumnya ia seperti ini. Rasanya  ini kali pertama kawannya melihat seperti ini.
“Otto, kenapa kamu”
            “Ssstt……” (sambil meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Bagas).
            “Iih, apaan kamu ini To, sok romantis deh…….”
            “ Haduh kamu ini kayak cewek , gas. Cerewet banget tahu nggak.”
            Rony datang dari arah utara dengan senyumnya yang super duper renyah, bak artis yang baru mendapat piala citra. Rony menenteng kamera, yang menjadi andalannya.
“Ayo kita ke puncak, ngapain disini,”
“Ini ron temenmu ada yang lagi kasmaran ama pucuk pohon …hehheheeh”
“Hahahaha, secantik apa tuh pucuk pohon”
“ Katanya mau ambil  Bunga Edelweis buat cewekmu, mana??”
“ Nggak jadi, gas. Aku pikir kalau lama – lama kita ambilin trus gimana dengan keseimbangan yang ada di alam. Nggak bagus kan gas??”
“ Wah, tumben kamu  Ron, cerdas banget. Trus cewekmu gimana??
“ Nih dia aku kasih foto bunga edelweis”. Si Otto yang sedari tadi mantengin si burung kakak tua akhirnya tertarik juga denger obrolan kedua sobatnya. Setelah sekian lama, perbincangan itu berlangsung Otto hanya  bisa mengernyitkan kepalanya , tanda bahwa dia tak memahami maksud dari sobatnya ini.
“ Ach kamu ini sok banget, Ron” sahut Otto sambil mencibir Roni.
“Hey, kenapa pada ngelihatin aku kayak gitu sih.”
“ Katanya mau ngungkapin keabadian cintamu pakai bunga edelweis, kok malah nggak jadi ngambil…” sanggah Bagas
“Aku nggak mau ngambilin bunga keabadian itu. jika setiap orang ngambil jadi nggak abadi lagi deh. Dan sebagai gantinya aku kasih saja dia fotonya” pungkas Rony.
***
Sampai akhirnya mereka bertiga lulus kuliah, mereka masih tetap melakukan ritual mendaki gunung bersama. Walaupun si Rony sering nggak bisa. Gara – gara ceweknya yang over protective. Dan kini Rony  dan Bagas telah bekerja di salah satu perusahaan swasta yang cukup ternama, sedangkan Otto memilih untuk tinggal di sebuah desa kecil di kaki  gunung. Otto benar – benar menjadi Otto yang sesungguhnya disini. Tiap pagi , siang sore hidupnya hanya di hutan. Sekedar mencari spesies baru, atau kadang menemani  pendaki gunung.
            Terdengar kicau burung di dahan dekat pondoknya, Otto di temani secangkir kopi hangat dan beberapa potong singkong goreng duduk di saung depan pondoknya. Seperti biasanya ia akan mendendangkan lagu dan di iringi gitar tua miliknya. Benar – benar tentram disana. Semilir angin, kicauan burung dan gemericik air sungai ditambah lagi hamparan hutan nan hijau.
            Warga disini kebanyakan bekerja di ladang, mencari sayuran dan  kayu di hutan atau ada pula yang berternak kambing, kerbau dan sapi. Hampir tiap pagi penggembala ternak  lewat di depan rumahnya, disana peternak tidak perlu lagi merumput. Mereka hanya menjaga ternaknya saja, ternaknya di bawa ke hutan , dibiarkan mencari makanan sendiri dan  ketika sore telah menjelang mereka kembali dari hutan. Kadang pulang dengan membawa sayuran untuk dimasak esok pagi oleh emaknya.  Dan lagi ladang disini sangat subur sekali, kentang, wortel dan aneka sayuran ditanam di dekat hutan. Semua tumbuh dengan baik. Tak perlu banyak pupuk, hanya sekali – kali mereka memberinya kompos untuk menjaga kestabilan tanah.
            Di desa ini berbeda dengan di kota dimana dulu ia menimba ilmu, disini semua serba murah, bahkan gratis kalau kita memang mau berusaha. Semua sudah di sediakan oleh alam. Dulu waktu Otto masih di kota, jangankan makan, air untuk minum pun berharga mahal hingga belasan ribu, mau mandi juga harus membeli di PDAM. Bahkan mungkin 100 tahun lagi, untuk bernafas pun kita harus membeli tabung oksigen, karena terlalu padatnya penduduk kota yang tidak di imbangi dengan keseimbangan alamnya.
***
            Hampir 2 tahun Otto tinggal di desa ini, dan tiap  tiga bulan sekali teman – teman lamanya menengok ke saung Otto. Tak banyak yang berubah dari mereka kecuali Rony yang kini telah memiliki bidadari cantik berusia 14 bulan, juga Bagas yang tiap kali ke saung Otto bersama calon istrinya dan Otto masih tetap sendiri.
            Siang ini, dengan tanpa sepengetahuan Otto tiba – tiba kedua sobatnya ini datang ke saung saat Otto sedang asyik menjelajah hutan bersama tetangganya. Akhirnya Rony dan Bagas pun mencari Otto dengan memasuki hutan. Rony dan Bagas yang lama tak ke hutan melepaskan kerinduannya disini. Diiringi kicau burung kakak tua yang di rawat oleh Otto, alunan suara gemericik mata air dan semak – semak yang ikut bergoyang.
            Ada tempat favorit bagi mereka bertiga ketika kesini. Tepat sekali Otto dengan gitar tuanya, bersenandung lirih di atas pohon besar yang telah di ubah menjadi sarang manusia.
“Otto…aku datang”,
“Ayo, sini naik kawan”,
Akhirnya mereka bertiga menaiki pohon yang cukup kokoh nan tinggi.
“Suka sekali kamu, disini dalam kesendirian?”,
“Oh, rupanya ada yang sedang di incar toh….”,
Dilihatnya nan jauh di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas yang dipenuhi dengan kebun bunga dan berbagai jenis tanaman lainnya, ada  seorang gadis manis  sedang sibuk menyiram tanaman. Anggun, dan benar – benar cantik. Dia anak seorang pengusaha sukses di desa ini.
***
Pagi ini, gerimis turun di sekitar gubuk Otto. Otto yang sedari tadi melamun akhirnya mengangkat gitar tua.
Jreng…jreng…”suara gitar tuanya memecah keheningan pagi ini.
Mungkin ini memang jalan takdirku,
Mengagumi tanpa di cintai tak mengapa bagiku 
Asal  kaupun………”, Jreng ….jreng …jreng….. 
Tiba- tiba wanita yang selama ini ia idamkan lewat depan gubuknya. Luar biasa cantik memang. Rasanya tak ingin melewatkan setiap detik untuk tak menatapnya, senyumnya benar – benar menawan.
“Assalamualaikum, maaf ini benar kediaman Bapak Broto Sumitro”,
Otto masih saja tercengang, dan untuk kedua kalinya gadis manis memanggil, ia baru mendengar.  Dan ternyata, gadis itu benar – benar di depan matanya. Raut wajah Otto berubah menjadi memerah, dan gugup.
“Ma…ma..maaf ada perlu apa mbak”,
“Assalamu’alaikum mas..”
“Wa’alaikum salam ,” jawab  si Otto
“ Maaf sebelumnya menggangu lamunan mas, apa benar ini rumahnya Bapak Broto?”,
“Oh, iya mbak, mari masuk dulu, kalau boleh tahu ada apa mbak”
“Saya mau mengantarkan surat dari Bapak Suryaningrat untuk Bapak Broto. Apa saya bisa bertemu dengan Bapak Broto”,
Otto menerima suratnya, “Oh iya, iya. Duduk dulu mbak. Mau minum apa mbak?”,
“ Wah nggak usah mas,”
Otto langsung masuk, keluar dengan dua gelas minuman, Teh hangat.
            “Terimakasih mas, Bapak Brotonya mana ya mas?” dengan senyum sumingrah
“ Sama - sama. Ya saya ini Broto mbak,”
“Oh, anda Broto, maaf mas..”,
“Iya, nggak apa – apa. Sebelumnya kalau boleh tahu nama mbak siapa?”
“Saya Jasmine, mas Broto. Kedatangan saya kesini untuk meminta izin kepada mas Broto ini untuk membuka lahan di pinggir hutan.”
Pertemuan  ini terjadi sampai larut malam. Terjadi perbincangan diantara mereka mengenai masalah ambil alih hutan di dekat desa. Namun hari itu juga menyisakan cerita lain, cerita tentang Otto dan Jasmine. Ya, Jasmine putri tunggal dari Tuan Suryaningrat, konglomerat kaya.
***

“Jasmine, pulang”, bentak sang ayah, kata itu bagaikan petir di siang bolong.
“Jangan kau dekati lagi putriku, kau itu tak sederajat dengan kami” sambil menunjuk ke arahku.
Suasana yang semula cerah tiba – tiba mendung. Otto bagaikan patung, membisu seribu bahasa.
***
Kejadian sore itu menyisakan sejuta luka bagi Otto.  Otto dan Jasmine tak pernah bersua lagi. Kata – kata yang kemarin bagaikan tamparan yang keras baginya. Dia terus memikirkan bagaimana kabar sang pujaan hatinya disana. Tak jarang dia sembunyi – sembunyi pergi kerumahnya untuk  hanya sekedar berjumpa dengan Jasmine.
Masih seperti hari – hari sebelum peristiwa itu terjadi. Kerinduan akan Jasmine terbayang di pikirannyaa. Untuk melepas kerinduannya, dia nongkrong di rumah – rumahan kecil yang ia bangun di atas pohon di pinggiran hutan sambil memainkan gitarnya.
Saat matahari kemerahan, tak disangka Jasmine datang menemuinya dengan wajah yang tak sebahagia kemarin. Otto sangat  bahagia dengan kedatangan si Jasmine kerumahnya, dia berpikir ayahnya  telah mengizinkannya untuk menemuinya.
“Maaf Otto, aku Tak bisa lama – lama disini, karena jika ayahku tahu maka akan gawat, ini aku tulis dengan linangan air mata”
setelah memberikan surat itu jasmine langsung pulang kerumahnya. Dengan wajah yang penuh tanda tanya dgn sikap jasmine, dibukalah surat itu
Dear Otto,
               Otto maaf bila senja ini menyisakan bekas luka bagimu.
Kerinduan yang besar membuatku menulis selayang surat ini. Mentari pagi tak terlihat indah seperti dulu, begitu pula hubungan kita. Otto, aku minta maaf atas kata – kata ayahku saat itu. Aku sudah menjelaskan kepada ayahku bahwa kita saling mencintai, tapi ayahku tak menyetujui hubungan kita. Sebelum kamu bersedia memyerahkan hutan di desa ini. Ayahku tetap bersikeras dengan kemauannya. Ayah akan  mengizinkanku bertemu denganmu lagi, jika kamu bersedia memberikan hutan untuk pembangunan perusahaannya. Tapi jika engkau menolak aku akan dijodohkan oleh ayah dengan pemuda dari kota. Aku sangat berharap banyak kepadamu.

Salam
Jasmine

            Otak Otto kini dipenuhi dengan segala pertimbangan dan masalah yang tiba – tiba saja menumpuk. Sebuah pilihan sulit baginya, memilih Jasmine sama saja dengan merelakan dunia ini dirampas oleh manusia demi nafsunya dan berarti pula hutan itu akan sirna dengan seluruh isinya. Tapi Jasmine, dia adalah cinta pertama Otto. Rasanya sangat sulit untuk dapat melepaskannya pergi begitu saja. Sudah banyak angan yang ia ingin torehkan bersama Jasmine dan apakah semua impian itu hanya akan menjadi sampah belaka. Jasmine, satu – satunya wanita yang mampu merebut hatinya, yang ia dambakan adalah penjaga dan teman sepanjang waktu, menjadi  pemilik kaki surga untuk anak – anaknya kelak, menjadi permasuri di kehidupannya.
            Malam semakin larut, tapi Otto masih belum bisa memejamkan matanya. Berkali – kali ia bolak – balikkan kertas surat yang ada di sampingnya. Sudah puluhan kali ia baca tulisan itu, dan puluhan kali ia mencoba memejamkan matanya. Tapi tak pernah ia dapat memejamkan matanya. Lalu ia keluar dari kamarnya menuju dipan kecil di teras depan rumahnya, ia berbaring sejenak disana. Ia pandangi bintang – bintang yang nampak bersinar, ia menghitung satu per satu bintangnya, dan akhirnya ia pun dapat tertidur.
***
Tiba – tiba Otto merasa dirinya berada di suatu tempat yang tak asing baginya. Tepat di depannya hanya ada sebuah pohon tua yang menjulang tinggi dan terdapat gubuk kecil diatasnya, yang di hinggapi puluhan burung. Lalu daun – daun berguguran dan perlahan udara disana menjadi sangat panas, dan burung – burung pun satu per satu pergi dan beberapa yang lain mati. Di ujung sudut yang lain ada sesosok wanita dengan wajah nan bersinar cerah, melambaikan tangannya pada Otto, ketika Otto beranjak untuk menghampirinya, wanita tersebut perlahan sirna dari pandangannya. Dan tiba – tiba saja pohon tua tadi tumbang dan seketika dunia menjadi sangat gelap.
            Lalu ia pun terjaga dari tidurnya, keringat dingin mengucur dari tubuhnya yang cungkring itu.  Ia mencoba mengingat apa yang baru saja ia alami. Entahlah apa yang sedang terjadi, mimpi itu benar – benar nyata seperti sedang terjadi. Ia mencoba menerka mimpinya itu. Kemudian ia masuk kembali ke dalam rumahnya, berbaring di tempat tidur dan mendapati lagi surat violet tadi, ia mengambilnya kemudian memasukkan ke dalam tas kulitnya. Lalu ia ambil sebuah kotak kecil berisi cincin yang berhiaskan berlian dari dalam tas tersebut.
***
Hari ini Otto memutuskan untuk mendatangi rumah Tuan Surya. Dengan membawa  tas kulit kesayangannya.
“Selamat pagi,Bi”
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu.”
“ Saya Ingin bertemu dengan Tuan Suryaningrat”.
Tiba – tiba Tuan Suryaningrat muncul dari dalam rumahnya
“Akhirnya engkau datang juga anak muda, bagaimana tawaranku, engkau menerimanya?”
“Tuan Suryaningrat yang terhormat, Ini tentang perasaan, tentang hati. Mengapa anda begitu mudahnya menjadikan ini seperti lahan bisnis. Begitu pula dengan kaki gunung itu. Takkah Tuan sadari, seberapa berharganya kaki gunung itu bagi  masyarakat dan kelangsungan hidup bebagai spesies yang ada didalamnya.”
“ Halah, kamu itu tahu apa anak muda. Modernisasi akan jauh lebih memudahkan masyarakat, biar mereka tidak terkungkung kehidupan yang terus kere seperti itu. Hewan – hewan kan bisa di pindah di penangkaran, gampangkan.”
“Takkah Tuan sadari seberapa berharganya kaki gunung ini bukan hanya sekedar sebuah kehidupan semu, sesaat yang kita jalani secara singkat, Tuan apakah anda menjamin dengan modernisasi akan membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik. Tidak Tuan, anda salah besar. Hutan itu paru – paru mereka, apakah Tuan tidak menyadari kaki gunung itu penopang kehidupan mereka, bukan hanya manusia tapi juga seisi hutan. Lalu bagaimana dengan anak cucu kita suatu saat nanti. Apakah suatu saat nanti hutan hanya akan menjadi dongeng belaka, yang bisa saja suatu saat nanti benar – benar menjadi cerita fiksi belaka karena orang – orang seperti tuan. Dan yang mereka tahu tentang bumi mereka adalah kebanjiran, kekeringan, dan tanah longsor. Lalu gambar – gambar hewan  liar hanya seakan seperti sebuah karangan manusia, karena harimau singa, orang utandan semua hewan, telah punah oleh keserakahan manusia. Tuan, jangan pernah berharap aku akan menyerahkan kaki gunung itu begitu saja pada Tuan. Tidak Tuan, tidak akan. Dan mengenai putri tuan, aku takkan pernah menukar rasa ini dengan apapun, bagiku Jasmine bukan sekedar barang yang dapat  dibarter begitu saja.”
“ Oke, jadi kamu memilih yang mana, Jasmine atau hutan itu!!!!!!! .” teriak Tuan Surya.
“ Tuan saya hanya bisa menitipkan ini, pada Jasmine” ia sodorkan kotak kecil berwarna  violet pada Tuan Surya.
Ia menarik nafas panjang, “ Saya lebih memilih hutan. Semoga Jasmine bisa mendapatkan yang lebih baik dari saya. Selamat sore Tuan.”
Otto melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Berjalan dengan tertatih mesti rasanya berat sekali untuk menghadapi semua ini. Bagi Otto,Jasmine adalah perempuan  yang mampu mengisi hidupnya setelah sekian lama mencari. Jasmine adalah sesosok yang mampu membuatnya tersenyum dan bahagia saat ia didekatnya. Dan kini semua harus berakhir. Mungkin Tuhan memang tidak akan pernah mentakdirkan mereka untuk bersama namun cinta mereka akan selalu abadi, walau itu hanya akan terdengar sangat menyakitkan.
Otto, berusaha untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi, paling tidak ia masih punya hutan, yang akan selalu membawa kedamaian dan kenangan tentang mereka berdua.
TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar