Broto Sumitro, nama
yang ia dapatkan dari emaknya. Tapi ia lebih sering di panggil Otto. Cowok
tinggi, cungkring, kulit sawo matang dan berhidung mancung ini memang memiliki
ciri khas tersendiri. Pagi ini dengan gayanya yang carut marut (bahkan terlihat
nggak pernah mandi), ia beranjak dari
kosannya menaiki sepeda gunung menuju kampusnya.
Sesampainya di kampus, Otto
disambut layaknya seorang artis papan penggilesan,
(papan atas maksudnya). ”Selamat pagi, Otto” sapa seorang gadis manis dengan
senyum merekah, namun hanya ia balas dengan senyum kecut dari wajah tak
bersinarnya. Namanya Tina. Cewek paling
cantik dan menjadi rebutan kaum adam selain itu ia pernah menjadi cover girl di salah satu majalah
ternama. Tapi entah apa yang membuat Tina bener-bener nge-fans pada Otto, bahkan
hampir gila ia gara – garanya. Tampang pas - pasan bahkan bisa dibilang
di bawah standar, dompet kempes, kece juga nggak.
Tapi itulah ajaibnya cinta.
Otto seorang pemuda desa. Dia tidak begitu suka dengan
hiruk - pikuk kota Yogyakarta. Begitu juga dengan kehidupan bebas para
pemudanya, mungkin itu pula yang membuatnya sama sekali tak melirik Tina.
Seorang model cantik yang terbiasa dengan dunia gemerlap malam. Sedangkan Otto
mahasiswa zaman purba yang hidup di zaman modern.
Ekpedisi
akhir semester
Untuk mengisi waktu
luangnya, Otto memilih untuk mengikuti UKM pecinta alam, ia menemukan dunia barunya
disini. Bukan hanya kaki gunung Semeru (kampung halamannya), namun juga kaki gunung
lainnya. Hampir tiap minggu ia menghilangkan penatnya dengan mengunjungi banyak
tempat yang mengagumkan.
Tepat pukul 02.00 WIB,
Rony, Bagas dan Otto telah bersiap dengan ransel besarnya. Menapaki jalan di
pinggir kota lalu mencari tumpangan kendaraan
yang searah dengan mereka. Lama benar
tak mereka jumpai ada kendaraan yang
melewati daerah itu sampai akhirnya
setelah berpuluh – puluh meter mereka berjalan, ada juga truk yang mau
ia tumpangi. Sudah hampir satu setengah jam mereka dalam perjalanan. Akhirnya mereka sampai di sebuah desa. Masih cukup
sepi, tak banyak yang aneh jika ini dinamakan
sebuah desa. Oksigen, ya oksigen ini yang selama ini mereka cari.Oksigen yang
masih bersih tanpa polusi. Rasanya seperti keluar dari penjara, mereka secara
berjamaah menarik nafas dalam – dalam lalu dikeluarkan bersama-sama seperti
paduan suara di fakultas. Dan hal yang tak terduga terjadi, salah seorang dari
mereka mengeluarkan angin dari tempat yang tak seharusnya. Bukannya dari mulut,
tapi malah dari bawah .”Duuut..dutttttttttt”. Sontak mereka bertiga tertawa
terbahak–bahak.
Tiga sekawan ini memang
benar–benar istimewa misalnya saja si
Bagas dia rajanya buang angin, apalagi kalau sudah ada ritual kayak gini pasti
tersangka utamanya Bagas. “ Parah kamu gas, tiap hari kayak gini, beh baunya
mencemari lingkungan, kalau sampai ada ayam yang bangun itu pasti gara- gara
bau gasmu ”, tuduh Rony.
| dok.google.com |
“ Hem enak saja,….”
Belum selesai Bagas
berkilah terdengar suara ayam jago berkokok. Rony dan Otto ketawa lepas,
merasakan kemenangan atas Bagas. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.
“Hem… ini kedua kalinya
kita kesini ya Ron”, Otto mengawali pembicaraan
“Wah, iya To. Masih
sama seperti kita pertama kali kesini.”
“ Bagiku yang baru pertama
kali kesini, ini menakjubkan kawan…”, sahut Bagas.
Mendaki dan terus
mendaki dan entahlah sampai kapan. Mereka bertiga, bagaikan tak pernah bisa lepas
dari alam. Binatang – binatang yang ada disana seakan telah menjadi kawan lama
bagi mereka. Namun Otto tak pernah menemukan sahabat lamanya, dalam sepanjang
perjalanan menjelajah gunung, dari gunung satu ke gunung yang lain ia tak
pernah lagi menemukan kakak tua kesayangannya. Dimanakah gerangan kini berada.
Apakah telah terpenjara keadaan, sehingga ia hanya dimanjakan oleh suguhan sang
empunya dan mimpinya untuk dapat terbang tersita oleh kotak 80 x 50 x 100.
Buyar
lamunan Otto oleh terbitnya matahari pagi ini, warna jingga yang menyilaukan
mata, yang memberikan pertanda bahwa pagi sedang menyambut manusia di bumi ini.
“ Subhanallah, indah nian ciptaan Allah yang
satu ini”, Rony berdecak kagum.
“
Kawan, lihat disana, luar biasa.” sahut Bagas, sambil menunjuk seberkas bias
pelangi yang menawan.
Tetes – tetes embun
yang menempel di dedaunan akhirnya jatuh ke tanah dan menghasilkan bias indah
aneka warna. Pelangi ini takkan bisa kita temui di kota. Sementara itu Otto
yang sedari tadi hanya menatap jauh ke pucuk pohon, akhirnya angkat bicara. Ia
temukan sahabat lamanya, kakak tua. Tepat di pucuk pohon yang ia sandari. Tak berani ia mengganggu sang burung, ia
hanya memotretnya saja lalu menatapnya dengan penuh rasa rindu. Tak pernah
sebelumnya ia seperti ini. Rasanya ini
kali pertama kawannya melihat seperti ini.
“Otto, kenapa kamu”
“Ssstt……”
(sambil meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Bagas).
“Iih,
apaan kamu ini To, sok romantis deh…….”
“
Haduh kamu ini kayak cewek , gas. Cerewet banget tahu nggak.”
Rony
datang dari arah utara dengan senyumnya yang super duper renyah, bak artis yang
baru mendapat piala citra. Rony menenteng kamera, yang menjadi andalannya.
“Ayo kita ke puncak, ngapain
disini,”
“Ini ron temenmu ada
yang lagi kasmaran ama pucuk pohon …hehheheeh”
“Hahahaha, secantik apa
tuh pucuk pohon”
“ Katanya mau
ambil Bunga Edelweis buat cewekmu,
mana??”
“ Nggak jadi, gas. Aku pikir kalau lama – lama kita ambilin trus
gimana dengan keseimbangan yang ada di alam. Nggak bagus kan gas??”
“ Wah, tumben kamu Ron, cerdas banget. Trus cewekmu gimana??
“ Nih dia aku kasih foto
bunga edelweis”. Si Otto yang sedari tadi mantengin si burung kakak tua
akhirnya tertarik juga denger obrolan kedua sobatnya. Setelah sekian lama,
perbincangan itu berlangsung Otto hanya
bisa mengernyitkan kepalanya , tanda bahwa dia tak memahami maksud dari
sobatnya ini.
“ Ach kamu ini sok
banget, Ron” sahut Otto sambil mencibir Roni.
“Hey, kenapa pada
ngelihatin aku kayak gitu sih.”
“ Katanya mau
ngungkapin keabadian cintamu pakai bunga edelweis, kok malah nggak jadi ngambil…” sanggah Bagas
“Aku nggak mau ngambilin bunga keabadian itu.
jika setiap orang ngambil jadi nggak abadi lagi deh. Dan sebagai gantinya aku
kasih saja dia fotonya” pungkas Rony.
***
Sampai akhirnya mereka
bertiga lulus kuliah, mereka masih tetap melakukan ritual mendaki gunung bersama.
Walaupun si Rony sering nggak bisa.
Gara – gara ceweknya yang over protective.
Dan kini Rony dan Bagas telah bekerja di
salah satu perusahaan swasta yang cukup ternama, sedangkan Otto memilih untuk
tinggal di sebuah desa kecil di kaki
gunung. Otto benar – benar menjadi Otto yang sesungguhnya disini. Tiap
pagi , siang sore hidupnya hanya di hutan. Sekedar mencari spesies baru, atau
kadang menemani pendaki gunung.
Terdengar
kicau burung di dahan dekat pondoknya, Otto di temani secangkir kopi hangat dan
beberapa potong singkong goreng duduk di saung depan pondoknya. Seperti
biasanya ia akan mendendangkan lagu dan di iringi gitar tua miliknya. Benar –
benar tentram disana. Semilir angin, kicauan burung dan gemericik air sungai
ditambah lagi hamparan hutan nan hijau.
Warga
disini kebanyakan bekerja di ladang, mencari sayuran dan kayu di hutan atau ada pula yang berternak
kambing, kerbau dan sapi. Hampir tiap pagi penggembala ternak lewat di depan rumahnya, disana peternak
tidak perlu lagi merumput. Mereka hanya menjaga ternaknya saja, ternaknya di
bawa ke hutan , dibiarkan mencari makanan sendiri dan ketika sore telah menjelang mereka kembali
dari hutan. Kadang pulang dengan membawa sayuran untuk dimasak esok pagi oleh
emaknya. Dan lagi ladang disini sangat
subur sekali, kentang, wortel dan aneka sayuran ditanam di dekat hutan. Semua
tumbuh dengan baik. Tak perlu banyak pupuk, hanya sekali – kali mereka
memberinya kompos untuk menjaga kestabilan tanah.
Di
desa ini berbeda dengan di kota dimana dulu ia menimba ilmu, disini semua serba
murah, bahkan gratis kalau kita memang mau berusaha. Semua sudah di sediakan
oleh alam. Dulu waktu Otto masih di kota, jangankan makan, air untuk minum pun
berharga mahal hingga belasan ribu, mau mandi juga harus membeli di PDAM.
Bahkan mungkin 100 tahun lagi, untuk bernafas pun kita harus membeli tabung
oksigen, karena terlalu padatnya penduduk kota yang tidak di imbangi dengan
keseimbangan alamnya.
***
Hampir
2 tahun Otto tinggal di desa ini, dan tiap
tiga bulan sekali teman – teman lamanya menengok ke saung Otto. Tak
banyak yang berubah dari mereka kecuali Rony yang kini telah memiliki bidadari
cantik berusia 14 bulan, juga Bagas yang tiap kali ke saung Otto bersama calon
istrinya dan Otto masih tetap sendiri.
Siang
ini, dengan tanpa sepengetahuan Otto tiba – tiba kedua sobatnya ini datang ke
saung saat Otto sedang asyik menjelajah hutan bersama tetangganya. Akhirnya
Rony dan Bagas pun mencari Otto dengan memasuki hutan. Rony dan Bagas yang lama
tak ke hutan melepaskan kerinduannya disini. Diiringi kicau burung kakak tua
yang di rawat oleh Otto, alunan suara gemericik mata air dan semak – semak yang
ikut bergoyang.
Ada
tempat favorit bagi mereka bertiga ketika kesini. Tepat sekali Otto dengan
gitar tuanya, bersenandung lirih di atas pohon besar yang telah di ubah menjadi
sarang manusia.
“Otto…aku datang”,
“Ayo, sini naik kawan”,
Akhirnya mereka bertiga
menaiki pohon yang cukup kokoh nan tinggi.
“Suka sekali kamu,
disini dalam kesendirian?”,
“Oh, rupanya ada yang
sedang di incar toh….”,
Dilihatnya nan jauh di sebuah
rumah dengan halaman yang cukup luas yang dipenuhi dengan kebun bunga dan
berbagai jenis tanaman lainnya, ada
seorang gadis manis sedang sibuk menyiram
tanaman. Anggun, dan benar – benar cantik. Dia anak seorang pengusaha sukses di
desa ini.
***
Pagi ini, gerimis turun di sekitar gubuk
Otto. Otto yang sedari tadi melamun akhirnya mengangkat gitar tua.
“Jreng…jreng…”suara
gitar tuanya memecah keheningan pagi ini.
“Mungkin
ini memang jalan takdirku,
Mengagumi
tanpa di cintai tak mengapa bagiku
Asal kaupun………”, Jreng ….jreng …jreng…..
Tiba- tiba wanita yang
selama ini ia idamkan lewat depan gubuknya. Luar biasa cantik memang. Rasanya
tak ingin melewatkan setiap detik untuk tak menatapnya, senyumnya benar – benar
menawan.
“Assalamualaikum, maaf ini benar
kediaman Bapak Broto Sumitro”,
Otto masih saja tercengang, dan untuk
kedua kalinya gadis manis memanggil, ia baru mendengar. Dan ternyata, gadis itu benar – benar di depan
matanya. Raut wajah Otto berubah menjadi memerah, dan gugup.
“Ma…ma..maaf ada perlu apa mbak”,
“Assalamu’alaikum mas..”
“Wa’alaikum salam ,” jawab si Otto
“ Maaf sebelumnya menggangu lamunan mas,
apa benar ini rumahnya Bapak Broto?”,
“Oh, iya mbak, mari masuk dulu, kalau
boleh tahu ada apa mbak”
“Saya mau mengantarkan surat dari Bapak
Suryaningrat untuk Bapak Broto. Apa saya bisa bertemu dengan Bapak Broto”,
Otto menerima suratnya, “Oh iya, iya.
Duduk dulu mbak. Mau minum apa mbak?”,
“ Wah nggak usah mas,”
Otto langsung masuk, keluar dengan dua
gelas minuman, Teh hangat.
“Terimakasih mas, Bapak Brotonya mana ya mas?” dengan senyum sumingrah
“Terimakasih mas, Bapak Brotonya mana ya mas?” dengan senyum sumingrah
“ Sama - sama. Ya saya ini Broto mbak,”
“Oh, anda Broto, maaf mas..”,
“Iya,
nggak apa – apa. Sebelumnya kalau boleh tahu nama mbak siapa?”
“Saya Jasmine, mas Broto. Kedatangan
saya kesini untuk meminta izin kepada mas Broto ini untuk membuka lahan di
pinggir hutan.”
Pertemuan ini terjadi sampai larut malam. Terjadi
perbincangan diantara mereka mengenai masalah ambil alih hutan di dekat desa. Namun
hari itu juga menyisakan cerita lain, cerita tentang Otto dan Jasmine. Ya, Jasmine
putri tunggal dari Tuan Suryaningrat, konglomerat kaya.
***
“Jasmine, pulang”,
bentak sang ayah, kata itu bagaikan petir di siang bolong.
“Jangan kau dekati lagi putriku, kau itu
tak sederajat dengan kami” sambil menunjuk ke arahku.
Suasana yang semula cerah tiba – tiba
mendung. Otto bagaikan patung, membisu seribu bahasa.
***
Kejadian sore itu menyisakan
sejuta luka bagi Otto. Otto dan Jasmine
tak pernah bersua lagi. Kata – kata yang kemarin bagaikan tamparan yang keras
baginya. Dia terus memikirkan bagaimana kabar sang pujaan hatinya disana. Tak
jarang dia sembunyi – sembunyi pergi kerumahnya untuk hanya sekedar berjumpa dengan Jasmine.
Masih seperti hari –
hari sebelum peristiwa itu terjadi. Kerinduan akan Jasmine terbayang di
pikirannyaa. Untuk melepas kerinduannya, dia nongkrong di rumah – rumahan kecil
yang ia bangun di atas pohon di pinggiran hutan sambil memainkan gitarnya.
Saat matahari kemerahan,
tak disangka Jasmine datang menemuinya dengan wajah yang tak sebahagia kemarin.
Otto sangat bahagia dengan kedatangan si
Jasmine kerumahnya, dia berpikir ayahnya
telah mengizinkannya untuk menemuinya.
“Maaf Otto, aku Tak
bisa lama – lama disini, karena jika ayahku tahu maka akan gawat, ini aku tulis
dengan linangan air mata”
setelah memberikan
surat itu jasmine langsung pulang kerumahnya. Dengan wajah yang penuh tanda
tanya dgn sikap jasmine, dibukalah surat itu
Dear
Otto,
Otto maaf bila
senja ini menyisakan bekas luka bagimu.
Kerinduan yang besar
membuatku menulis selayang surat ini. Mentari pagi tak terlihat indah seperti
dulu, begitu pula hubungan kita. Otto, aku minta maaf atas kata – kata ayahku
saat itu. Aku sudah menjelaskan kepada ayahku bahwa kita saling mencintai, tapi
ayahku tak menyetujui hubungan kita. Sebelum kamu bersedia memyerahkan hutan di
desa ini. Ayahku tetap bersikeras dengan kemauannya. Ayah akan mengizinkanku bertemu denganmu lagi, jika kamu
bersedia memberikan hutan untuk pembangunan perusahaannya. Tapi jika engkau menolak
aku akan dijodohkan oleh ayah dengan pemuda dari kota. Aku sangat berharap
banyak kepadamu.
Salam
Jasmine
Otak
Otto kini dipenuhi dengan segala pertimbangan dan masalah yang tiba – tiba saja
menumpuk. Sebuah pilihan sulit baginya, memilih Jasmine sama saja dengan
merelakan dunia ini dirampas oleh manusia demi nafsunya dan berarti pula hutan
itu akan sirna dengan seluruh isinya. Tapi Jasmine, dia adalah cinta pertama
Otto. Rasanya sangat sulit untuk dapat melepaskannya pergi begitu saja. Sudah
banyak angan yang ia ingin torehkan bersama Jasmine dan apakah semua impian itu
hanya akan menjadi sampah belaka. Jasmine, satu – satunya wanita yang mampu
merebut hatinya, yang ia dambakan adalah penjaga dan teman sepanjang waktu,
menjadi pemilik kaki surga untuk anak –
anaknya kelak, menjadi permasuri di kehidupannya.
Malam
semakin larut, tapi Otto masih belum bisa memejamkan matanya. Berkali – kali ia
bolak – balikkan kertas surat yang ada di sampingnya. Sudah puluhan kali ia
baca tulisan itu, dan puluhan kali ia mencoba memejamkan matanya. Tapi tak
pernah ia dapat memejamkan matanya. Lalu ia keluar dari kamarnya menuju dipan
kecil di teras depan rumahnya, ia berbaring sejenak disana. Ia pandangi bintang
– bintang yang nampak bersinar, ia menghitung satu per satu bintangnya, dan akhirnya
ia pun dapat tertidur.
***
Tiba – tiba Otto merasa
dirinya berada di suatu tempat yang tak asing baginya. Tepat di depannya hanya
ada sebuah pohon tua yang menjulang tinggi dan terdapat gubuk kecil diatasnya,
yang di hinggapi puluhan burung. Lalu daun – daun berguguran dan perlahan udara
disana menjadi sangat panas, dan burung – burung pun satu per satu pergi dan
beberapa yang lain mati. Di ujung sudut yang lain ada sesosok wanita dengan wajah
nan bersinar cerah, melambaikan tangannya pada Otto, ketika Otto beranjak untuk
menghampirinya, wanita tersebut perlahan sirna dari pandangannya. Dan tiba –
tiba saja pohon tua tadi tumbang dan seketika dunia menjadi sangat gelap.
Lalu
ia pun terjaga dari tidurnya, keringat dingin mengucur dari tubuhnya yang
cungkring itu. Ia mencoba mengingat apa
yang baru saja ia alami. Entahlah apa yang sedang terjadi, mimpi itu benar –
benar nyata seperti sedang terjadi. Ia mencoba menerka mimpinya itu. Kemudian
ia masuk kembali ke dalam rumahnya, berbaring di tempat tidur dan mendapati lagi
surat violet tadi, ia mengambilnya kemudian memasukkan ke dalam tas kulitnya.
Lalu ia ambil sebuah kotak kecil berisi cincin yang berhiaskan berlian dari
dalam tas tersebut.
***
Hari ini Otto memutuskan untuk
mendatangi rumah Tuan Surya. Dengan membawa
tas kulit kesayangannya.
“Selamat pagi,Bi”
“Selamat pagi, ada yang bisa saya
bantu.”
“ Saya Ingin bertemu dengan Tuan
Suryaningrat”.
Tiba – tiba Tuan
Suryaningrat muncul dari dalam rumahnya
“Akhirnya engkau datang
juga anak muda, bagaimana tawaranku, engkau menerimanya?”
“Tuan Suryaningrat yang
terhormat, Ini tentang perasaan, tentang hati. Mengapa anda begitu mudahnya
menjadikan ini seperti lahan bisnis. Begitu pula dengan kaki gunung itu. Takkah
Tuan sadari, seberapa berharganya kaki gunung itu bagi masyarakat dan kelangsungan hidup bebagai
spesies yang ada didalamnya.”
“ Halah, kamu itu tahu
apa anak muda. Modernisasi akan jauh lebih memudahkan masyarakat, biar mereka
tidak terkungkung kehidupan yang terus kere seperti itu. Hewan – hewan kan bisa
di pindah di penangkaran, gampangkan.”
“Takkah Tuan sadari
seberapa berharganya kaki gunung ini bukan hanya sekedar sebuah kehidupan semu,
sesaat yang kita jalani secara singkat, Tuan apakah anda menjamin dengan
modernisasi akan membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik. Tidak Tuan, anda
salah besar. Hutan itu paru – paru mereka, apakah Tuan tidak menyadari kaki
gunung itu penopang kehidupan mereka, bukan hanya manusia tapi juga seisi
hutan. Lalu bagaimana dengan anak cucu kita suatu saat nanti. Apakah suatu saat
nanti hutan hanya akan menjadi dongeng belaka, yang bisa saja suatu saat nanti
benar – benar menjadi cerita fiksi belaka karena orang – orang seperti tuan.
Dan yang mereka tahu tentang bumi mereka adalah kebanjiran, kekeringan, dan
tanah longsor. Lalu gambar – gambar hewan
liar hanya seakan seperti sebuah karangan manusia, karena harimau singa,
orang utandan semua hewan, telah punah oleh keserakahan manusia. Tuan, jangan
pernah berharap aku akan menyerahkan kaki gunung itu begitu saja pada Tuan.
Tidak Tuan, tidak akan. Dan mengenai putri tuan, aku takkan pernah menukar rasa
ini dengan apapun, bagiku Jasmine bukan sekedar barang yang dapat dibarter
begitu saja.”
“ Oke, jadi kamu
memilih yang mana, Jasmine atau hutan itu!!!!!!! .” teriak Tuan Surya.
“ Tuan saya hanya bisa
menitipkan ini, pada Jasmine” ia sodorkan kotak kecil berwarna violet pada Tuan Surya.
Ia menarik nafas
panjang, “ Saya lebih memilih hutan. Semoga Jasmine bisa mendapatkan yang lebih
baik dari saya. Selamat sore Tuan.”
Otto melangkah pergi
meninggalkan tempat itu. Berjalan dengan tertatih mesti rasanya berat sekali
untuk menghadapi semua ini. Bagi Otto,Jasmine adalah perempuan yang mampu mengisi hidupnya setelah sekian
lama mencari. Jasmine adalah sesosok yang mampu membuatnya tersenyum dan
bahagia saat ia didekatnya. Dan kini semua harus berakhir. Mungkin Tuhan memang
tidak akan pernah mentakdirkan mereka untuk bersama namun cinta mereka akan
selalu abadi, walau itu hanya akan terdengar sangat menyakitkan.
Otto,
berusaha untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi, paling tidak ia masih
punya hutan, yang akan selalu membawa kedamaian dan kenangan tentang mereka berdua.
TAMAT









0 komentar:
Posting Komentar