Selasa, 08 April 2014
My Dad Is One
Detak jam dinding terdengar begitu nyaring, detik demi detik terasa begitu lama. Dihadapku bak lapangan besar, bermarmer dengan sekat batu bata. Tak lama kemudian kudengar suara sendu mama memanggilku, menyadarkanku dari lamunanku. Suara parau yang lama tak kudengarkan lagi, akhirnya kini mengisi istana ini lagi, setelah sekian lama mama bersemedi dalam sunyi. Tepat dihadapku, kulihat bintang terang dimata yang indah itu. Memberikan kesejukan bagi siapapun yang menatapnya.
Pagi ini aku, mama dan adek Fadly duduk diruangtengah. Mama yang terbiasa dengan segala kediamannya, mengeluarkan secercah sinar terang yang menambah indahnya pagi ini. dengan segala kelembutannya mama memulai Nostalgia hidupnya. Sesosok lelaki bertubuh gempal.
Sejak ayah meninggal satu tahun yang lalu, mama tinggal berdua dengan adikku. Sedangkan aku kuliah diluar kota. Rasanya berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, bahkan aku masih sangat sulit menjalani hari-hari seperti ini tanpa seorang ayah. Ayah yang selalu sayang, memarahi tiap aku salah, yang selalu ngajak hang out tiap ada waktu senggang. Kerinduan itu selalu muncul kala aku berada di dalam kamar sendiri. Tiap kali aku merindukan ayah, ayah selalu hadir dalam setiap mimpiku. Hanya mimpi-mimpi itu yang menjadi penawar rindu. Dengan hadirnya ayah dalam mimpi-mimpiku ini membuat aku selalu merasakan bahwa ayah masih hadir menemaniku, meskipun mungkin tak nyata.
Namun bagaimana pun juga ayah memang tak lagi menemaniku, tak dapat melihat putri cantiknya suatu saat bersanding dengan sang pangeran berkuda besi, tak dapat melihat anaknya memakai toga kebanggaan yang menjadi idaman ayah. Ayah, tapi aku selalu percaya suatu saat aku akan jadi anak yang ayah banggakan.
Setahun berlalu begitu cepat, meski memang sangat berat. Namun aku selalu percaya nasihat ayah semasa beliau masih hidup. Masih ku ingat benar saat itu aku sedang di loteng berdua saja dengan ayah, “nduk,Lihat ulat itu, banyak orang tidak menyukai itu, tapi suatu saat ulat itu akan menjadi kupu-kupu yang indah,dan ingatlah selalu bahwa roda itu selalu berputar ada kalanya kita merasakan sedih, namun tuhan jua mengirimkan kebahagiaan. Jadi jangan pernah bangga dengan apa yang kita miliki sekarang, namun jangan terlalu banyak mengeluh jika kita sedang di beri cobaan, selalu berusaha dan berdoa. Suatu saat engkau akan jadi kupu-kupu ayah yang cantik”. Malam itu memang begitu indah, bintang bertaburan dilangit, sedang merasakan indahnya kebersamaanku dengan ayah.
Minggu ini aku pulang kerumah, aku sudah kangen sama mama, adek Fadly juga pengen segera ke makam ayah. Kamis pagi aku berkemas, menyiapkan barang dan tidak lupa membawa tiket kereta yang sudah aku beli dari emapat hari yang lalu. Sebenarnya hari ini dan juga jumat aku ada kuliah namun aku meliburkan diri. Aku sudah kangen berat sama keluarga dirumah. Aku berangkat dari Surabaya pukul 06.00 WIB. Sampai di kampung halaman pukul 12.30 WIB. Perjalanan selama enam jam setengah terasa sangat lama sekali. Sesampainya di stasiun aku dijemput mama sama adek, dan sesosok laki-laki yang tak asing bagiku. Om Farhan teman lama mama yang sekarang sukses menjadi pengusaha dan salah satu kepala daerah. Entah kenapa aku berpikiran tidak baik tentang mereka. Tapi aku mencoba menipis semua rasanya itu, aku percaya mama akan setia pada ayah. Di sepanjang perjalanan pulang aku yang tadinya pengen cerita banyak tentang kampus mengurungkan niatku. Aku melihat mama lagi asyik ngobrol dengan Om Farhan. Aku yang duduk asyik sms-an dengan Wahyu sedang adek fadly sibuk godain aku. Hari ini rasanya kesel banget ama mama juga adek Fadly. Tiba-tiba tanpa sengaja aku ngebentak adek. Mama yang dari tadi asyik ngobrol ama Om Farhan akhirnya marahin aku juga. Tahu nggak sich seharusnya aku yang marah ama mama, kenapa aku dicuekin dari tadi.
Sesampai dirumah aku langsung menuju kamar tengah , terpampang besar foto Ayah ,mama, aku juga adek. Aku menangis melihat foto itu. Aku nggak pengen ada yang gantiin ayah sampai kapanpun juga. Aku lihat sekali lagi satu persatu. Mama memang cantik, masih muda dan berkarisma. Adek Fadly yang imut, wajah polosnya masih tersirat jelas. Ayah masih gagah, tampan dengan senyuman yang sumringah. Foto ini, foto terakhir kita saat jalan-jalan ke Borobudur.
Malam ini aku tidur di kamar mama, kulihat mama asyik sms-an. Heran aku melihatnya. Tidak seperti biasanya mama seperti ini. Hp mama berdering keras pagi ini. aku angkat ternyata Om Farhan.Aku jadi bertambah penasaran, kemudian aku buka kotak masuk di Hp mama. Terpukul aku, ternyata mama selama ini sms-an dengan Om Farhan. Pengen rasanya aku banting Hp, Aku menangis sejadinya. Aku nggak ingin mama menikah lagi. Cukup ada aku, Adek Fadly, juga mama dirumah ini. Aku nggak mau ayah yang lain,ayahku cuman bapak Sudibyo Suryoningrat nggak ada yang lain. Ku sudah bersumpah seandainya benar mama dengan Om Farhan, aku lebih memilih pergi dari rumah daripada harus memiliki ayah baru. Tidak semua yang hilang harus digantikan dengan yang baru, begitu pula dengan ayah.
Pagi itu aku langsung menuju garasi, menuju sepeda kesayanganku tancapa gas dengan kecepatan tinggi menuju makam ayah. Aku mengadukan semua pada ayah. Aku ingin mama tahu bahwa tidak ada yang bisa menggantikan ayah.
Bersambung……………………………………………








0 komentar:
Posting Komentar